Skip to main content

FIKIH SEPUTAR IMAM DALAM SHALAT

 

Kedudukan imam dalam shalat merupakan kedudukan yang istimewa dalam Islam. Di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang berhak menjadi imam kaum muslimin adalah beliau sendiri. Ketika beliau hadir, tidak ada yang berhak menjadi imam selain beliau. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan imam dalam shalat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika meninggalkan kota Madinah untuk berjihad atau keperluan lain, selalu menentukan siapa yang akan menjadi imam kaum muslimin. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap masalah imam dalam shalat.

Dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit pada masa akhir hayatnya, yang akhirnya menyebabkan beliau wafat, beliau menentukan Sahabat Abu Bakar sebagai imam ketika beliau tidak mampu untuk datang ke masjid. Ini juga menunjukkan bahwa masalah imam dalam shalat adalah hal yang harus diperhatikan dengan baik, dan tidak boleh disepelekan.

Oleh karena itu, para pengurus masjid (DKM) yang memiliki hak untuk menentukan imam di masjid-masjid mereka harus melakukannya dengan kriteria yang benar. Penentuan imam harus sesuai dengan kriteria yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa imam memiliki kedudukan istimewa dalam shalat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma. Beliau mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 لا تَزالُ طائِفَةٌ مِن أُمَّتي يُقاتِلُونَ علَى الحَقِّ ظاهِرِينَ إلى يَومِ القِيامَةِ، قالَ: فَيَنْزِلُ عِيسَى ابنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، فيَقولُ أمِيرُهُمْ: تَعالَ صَلِّ لَنا، فيَقولُ: لا، إنَّ بَعْضَكُمْ علَى بَعْضٍ أُمَراءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هذِه الأُمَّةَ.

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang berperang untuk memperjuangkan kebenaran, dan mereka akan selalu menang sampai hari kiamat. Kemudian, Nabi Isa akan turun. Ketika itu, pemimpin kaum muslimin akan berkata: ‘Shalatlah untuk kami, wahai Nabi Isa, sebagai imam kami’ Namun, Nabi Isa menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi yang lain sebagai bentuk pemuliaan Allah kepada umat ini.'” (HR. Muslim dan Ahmad).

Nabi Isa ‘Alaihis Salam menolak dan mengatakan, “Sesungguhnya sebagian dari kalian menjadi pemimpin dalam shalat atas sebagian yang lain.” Hal ini merupakan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan umat ini. Dengan menjadikan sebagian dari mereka sebagai pemimpin atas yang lain, khususnya dalam konteks shalat, Allah menunjukkan bahwa pemimpin dalam shalat adalah orang yang mulia.

Oleh karena itu, kita harus memilih orang yang mulia sebagai imam shalat. Salah satu ciri orang yang mulia adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pengarahan tentang siapa yang paling berhak menjadi imam, Beliau menyebutkan bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Hal ini disebutkan dengan jelas dalam hadits dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

 يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤهُمْ لِكتَابِ اللَّهِ

“Yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling aqra’ dalam hal Kitabullah.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan yang lainnya)

Makna dari “al-aqra” ini diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan bahwa “al-aqra” adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya, sementara yang lain berpendapat bahwa maksudnya adalah orang yang paling paham tentang Kitabullah. Pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat, orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya juga adalah orang yang paling mendalam pemahamannya tentang Al-Qur’an. Mereka tidak mempelajari sepuluh ayat kecuali setelah memahami isinya, baru kemudian menambah hafalannya lagi.

Namun, pendapat yang mengatakan bahwa “al-aqra” adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya terlihat lebih kuat dari sisi dalil. Hal ini dikuatkan oleh riwayat lain yang menyatakan,

وليؤُمَّكُم أَكْثرُكُم قرآنًا 

“Hendaklah yang menjadi imam bagi kalian adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Riwayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa orang yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya.

Namun, perlu diberikan batasan mengenai siapa yang layak menjadi imam shalat, khususnya terkait bacaan Al-Qur’an. Apabila ada seseorang yang hafalannya paling banyak, tetapi bacaan Al-Qur’annya buruk, maka orang tersebut tidak pantas menjadi imam. Bacaan Al-Qur’an yang buruk dapat menyebabkan ketidaksempurnaan dalam bacaan, terutama dalam bacaan Al-Fatihah yang merupakan rukun shalat. Oleh karena itu, batasan ini penting, yakni seseorang yang bacaan Al-Qur’annya baik, meskipun tidak harus sempurna, dan yang memiliki hafalan Al-Qur’an terbanyak.

Selain itu, imam juga harus mengetahui hukum-hukum shalat. Hal ini penting karena jika imam tidak memahami hukum shalat, maka shalatnya, dan shalat jamaah yang dipimpinnya, bisa menjadi tidak sempurna. Maka ini menjadi syarat. Karena berdasarkan kaidah fikih, “Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Sumber : https://www.radiorodja.com/54434-fikih-seputar-imam-dalam-shalat/

Popular posts from this blog

Suka Mengutuk Akan Merusak Kepribadian Anak

Salah satu sikap dan kebiasaan orang tua yang dapat merusak kepribadian anak adalah suka mengutuk. Orang tua perlu berhati-hati dengan ucapan, karena ucapan itu bisa menjadi doa. Kadang-kadang, karena kesal atau marah, kita melontarkan kata-kata yang justru menjadi doa buruk bagi anak kita sendiri—doa yang mungkin akan kita sesali di kemudian hari. Kita mungkin akan berkata, “Seandainya aku tidak mengucapkannya.” Namun, jika perkataan sudah keluar dari lisan, maka akan tercatat, karena Allah memerintahkan malaikat hafadhah untuk mencatatnya: وَمَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf [50]: 18). Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam melontarkan komentar, ucapan, atau perkataan terhadap anaknya sendiri. Jangan sampai ucapan itu menjadi doa keburukan bagi anak. Kutukan adalah doa buruk yang kita lontarkan kepada seseorang, atau dalam bahasa Al-Qur’a...

Penjelasan Al-Qur’an tentang Sifat-Sifat Kesempurnaan dan Kemahatinggian Allah

  Kajian kita melanjutkan pembahasan mengenai bagaimana Al-Qur’an menjelaskan keindahan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat-Nya. Hal ini semakin menguatkan pengenalan kita terhadap Allah dengan nama-nama-Nya yang Mahaindah, sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, dan Mahamulia. Pengenalan ini tentu akan semakin menggerakkan hati untuk mencintai Allah, senantiasa memuji dan menyanjung-Nya atas kesempurnaan dan kemahaindahan nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Telah dijelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang Allah, baik nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya yang Mahatinggi, adalah ayat-ayat yang paling banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Bahkan, ayat-ayat ini lebih banyak daripada ayat-ayat yang menjelaskan tentang hari akhir, surga, dan neraka. Ini menunjukkan betapa pentingnya perkara ini bagi manusia, karena yang paling bermanfaat bagi hati ...

Bersin Namun Tidak Mengucapkan ‘Alhamdulillah’

  KAJIAN ISLAM TENTANG BERSIN NAMUN TIDAK MENGUCAPKAN ‘ALHAMDULILLAH’ Bab 419 membahas tentang bersin. Orang yang bersin tidak selalu disebabkan oleh flu, bisa saja karena hal lain. Dalam bab ini, Imam Bukhari menjelaskan bahwa jika seseorang bersin namun tidak mengucapkan “Alhamdulillah,” maka dia tidak didoakan oleh orang lain. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, عطس رجلان عند النبي صلى الله عليه وسلم فشمت أحدهما ولم يشمت الآخر فقال شمت هذا ولم تشمتني قال إن هذا حمد الله ولم تحمده “Ada dua orang yang bersin di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya didoakan, sementara yang lainnya tidak didoakan. Orang yang tidak didoakan itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau mendoakan dia tetapi tidak mendoakan aku?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Orang ini memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), sedangkan engkau tidak memuji Allah.'” (HR. Bukhari) Di sini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan kepada orang yang...